Hadapi Krisis Air, 29 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Karhutla di Tommo Mamuju

Avatar photo
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Pemerintah Provinsi Sulbar memadamkan api di Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju, Senin 10 Oktober 2026. (Foto: Kominfo Sulbar)

MAMUJU, MASALEMBO.ID — Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Provinsi Sulawesi Barat bersama tim gabungan terus melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Buana Sakti, Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.

Hingga Minggu (11/10/2026) pukul 18.00 WITA, tim di lapangan masih berupaya mengendalikan penyebaran api melalui metode isolasi atau pembuatan jalur pemutus api.

Sejalan dengan arahan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, serta koordinasi Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Junda Maulana, BPBD Sulawesi Barat terus memperkuat sinergi dengan BPBD Kabupaten Mamuju, Manggala Agni, Kementerian PU, dan unsur terkait lainnya dalam mempercepat penanganan Karhutla di wilayah Sulawesi Barat.

Baca Juga  Waspada Cuaca Ekstrem, Kadis PUPR Sulbar Imbau Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Berdasarkan laporan TRC BPBD Sulbar, titik kebakaran utama di Desa Buana Sakti diperkirakan mencapai 20 hektare, sementara dua titik lainnya di Tommo 2 dan Tommo 5 masih dalam proses asesmen.

Dalam penanganan kejadian tersebut, sebanyak 29 personel gabungan dikerahkan, yang terdiri atas empat personel BPBD Provinsi Sulawesi Barat, sembilan personel BPBD Kabupaten Mamuju, 14 personel Manggala Agni dari Pondok Kerja Mamuju dan Pondok Kerja Palu, serta dua personel BPBPK Sulawesi Barat.

Baca Juga  Langkah Fatmawati Salim Terhenti? Netizen Nyentil Cawe-cawe SDK

Upaya pemadaman dilakukan dengan membuat jalur isolasi untuk memutus penyebaran api dari sisi barat, timur, dan selatan dengan total panjang jalur mencapai sekitar 450 meter. Dari perkiraan luas area terbakar sebesar 20 hektare. Persentase lahan yang telah tertangani mencapai sekitar 25 persen.

Kendati demikian, operasi pemadaman ini tidak lepas dari kendala di lapangan. Dampak kejadian dirasakan masyarakat berupa paparan asap, sementara tim juga menghadapi tantangan berupa berkurangnya ketersediaan sumber air dan kebutuhan tambahan kendaraan operasional untuk menyuplai air ke lokasi.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Barat, Muhammad Yasir Fattah, menegaskan bahwa penanganan Karhutla memerlukan koordinasi lintas instansi, dukungan sumber daya yang memadai, serta pemantauan kondisi lapangan secara berkelanjutan. Metode isolasi dipilih sebagai langkah taktis untuk membatasi pergerakan api di tengah kendala air.

Baca Juga  Menembus Sisa Longsor, Cahaya Kehidupan Kembali Menyala 100 Persen di Matangnga

BPBD Sulawesi Barat turut mengimbau masyarakat di sekitar lokasi untuk meningkatkan kewaspadaan, mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, serta segera melapor jika menemukan titik api baru.

“Penanganan akan terus dilakukan dengan mengutamakan keselamatan personel dan masyarakat, sekaligus mengupayakan agar penyebaran api dapat dikendalikan,” tutup Yasir Fattah. (ril/har)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *